Abstrak.id – Ratusan petani plasma dari Kecamatan Popayato dan Popayato Timur memadati Lapangan Desa Tahele dalam rangka menghadiri Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Bukit Sawit Popayato (BSP), Rabu (2/7/2025).
Acara yang menjadi forum tertinggi pengambilan keputusan koperasi ini berlangsung aman, tertib, dan penuh antusiasme dari para anggota.
Suasana kekeluargaan dan semangat kebersamaan tampak begitu kental saat satu per satu anggota mulai berdatangan sejak pagi hari.
Total peserta yang tercatat dalam daftar hadir mencapai 495 orang, dan diperkirakan lebih dari 500 orang hadir mengikuti jalannya rapat hingga selesai.
Ketua Dewan Penasehat Koperasi Sawit Popayato, Herdiansyah Maranya, menyampaikan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan RAT tersebut.
Ia menilai, partisipasi tinggi dari para anggota merupakan cerminan kepercayaan terhadap koperasi serta komitmen bersama dalam mendorong kemajuan usaha perkebunan sawit rakyat.
“Alhamdulillah, acaranya berjalan dengan lancar. Peserta yang telah mengisi absen tadi sebanyak 495 orang, dan ada juga yang tidak sempat mengisi absen. Jadi, total peserta yang hadir lebih dari 500 orang,” ujar Herdiansyah kepada Abstrak.id.
RAT tahun ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi kinerja koperasi, membahas laporan pertanggungjawaban pengurus dan pengawas, serta menyusun rencana kerja tahun berikutnya.
Para anggota juga mendapatkan ruang untuk menyampaikan masukan dan harapan terhadap keberlanjutan usaha koperasi, terutama dalam kaitannya dengan pembangunan kebun plasma.
Dalam pernyataannya, Herdiansyah juga menyoroti pentingnya perhatian dari pihak perusahaan mitra, khususnya PT. Sawit Tiara Nusa (STN) terhadap pengembangan kebun plasma milik masyarakat.
Ia berharap perusahaan dapat lebih proaktif membantu mendorong produktivitas dan kesejahteraan petani.
“Kami berharap ada pengembangan kebun plasma untuk masyarakat, sehingga Surat Hak Pengelolaan (SHP) setiap tahunnya bisa naik. Ini akan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan pendapatan petani,” imbuhnya.
RAT Koperasi Sawit Popayato ini sekaligus menunjukkan bagaimana koperasi tetap menjadi instrumen penting dalam pembangunan ekonomi lokal.
Dengan kolaborasi yang solid antara anggota, pengurus, dan pihak terkait, koperasi diyakini akan mampu memperkuat posisi petani plasma dalam rantai nilai industri sawit yang berkelanjutan.
Acara ditutup dengan semangat optimisme dari para peserta yang berharap keputusan-keputusan yang dihasilkan dalam RAT kali ini bisa segera diimplementasikan secara nyata di lapangan. (Adv)