BOLMUT – Kondisi infrastruktur di Desa Sonuo, Kecamatan Bolangitang Barat, kini menjadi simbol kegagalan pelayanan publik di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut). Janji perbaikan jalan yang tak kunjung terealisasi memicu gelombang protes keras dari warga yang merasa dianaktirikan oleh pemerintah sendiri.
Bukan Aspal, Tapi Kubangan Maut
Anjas Umar, tokoh pemuda sekaligus putra asli Desa Sonuo, melontarkan kritik pedas saat meninjau langsung kondisi jalan yang kini lebih mirip kubangan kerbau daripada akses publik. Menurutnya, pembiaran ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan bentuk ketidakpedulian pemerintah terhadap nyawa warga.
“Saya pulang kampung yang saya temui bukan aspal, tapi kubangan! Jalan itu urat nadi. Kalau putus, ekonomi mati. Kalau rusak, nyawa taruhannya. Jangan tunggu ada yang meninggal baru dikerjakan!” tegas Anjas dengan nada geram.
Kondisi jalan yang penuh lubang besar ini dilaporkan telah memakan banyak korban, mulai dari pelajar yang terjatuh dari motor hingga ibu hamil yang bertaruh nyawa saat harus dievakuasi ke rumah sakit. Bahkan, urusan perut warga ikut terganggu karena hasil bumi petani rusak akibat kendaraan pengangkut yang tak mampu melewati jalur ekstrem tersebut.
Anjas menantang Pemda Bolmut dan Dinas PUPR untuk tidak bermain “kucing-kucingan” terkait anggaran perbaikan jalan. Ia menuntut keterbukaan informasi sesuai dengan UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.
Warga mendesak agar seluruh dokumen proyek dibuka secara transparan, meliputi:
Pagu Anggaran & RAB (Rencana Anggaran Biaya).
“Warga Sonuo juga bayar pajak. Kami berhak tahu duitnya ke mana! Tempel dokumennya di balai desa agar kami bisa awasi bareng. Jangan sampai anggarannya miliaran, tapi baru 3 bulan jalannya sudah ambles lagi,” tantang Anjas.
Ketegasan warga Sonuo sudah bulat: mereka tidak butuh janji manis atau sikap dikasihani, melainkan hak untuk dilayani. Anjas meminta Bupati, DPRD, bahkan Aparat Penegak Hukum (APH) untuk turun tangan mengawal proyek ini agar tidak menjadi lahan “permainan” oknum yang tidak bertanggung jawab.
“Kami nggak minta muluk-muluk. Cuma minta jalan yang layak dan anggaran yang terang. Kalau pemerintah terus bungkam, jangan salahkan jika kepercayaan masyarakat benar-benar hilang,” tutupnya.