Menu Tutup

Kesal Air Selalu Keruh, Ketua APRI Pohuwato Pertanyakan Anggaran Tawas di PDAM

Abstrak.id – Merasa kesal air selalu keruh, Ketua Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) Kabupaten Pohuwato, Limonu Hippy mempertanyakan terkait anggaran pengadaan tawas untuk PDAM.

Pasalnya, anggaran pengadaan tawas yang diberikan untuk pengelolaan air keruh tersebut diduga disalahgunakan oleh pihak PDAM Tirta Maleo Pohuwato.

“Itu kan menggunakan tawas, lalu anggaran pengadaan tawas itu di ke manakan sampai air yang keluar tetap keruh?,” ungkap Limonu Hippy kepada awak media, Kamis (23/12/2021).

Limonu menyampaikan, agar Direktur PDAM Tirta Maleo, Hairudin Usman tidak hanya sekedar berasumsi. Kalau misalnya ada penyumbatan silahkan tunjukan di mana lokasinya.

“Saya selaku ketua APRI pengin bersinergi dengan pihak PDAM. Bahkan saya tidak segan-segan menekan para penambang harus bertanggung jawab manakala ada yang rusak,” katanya.

Kata Limonu, jangan ketika ada keluhan dari masyarakat kemudian langsung menyampaikan bahwa penambang yang salah. Kalau misalnya itu benar-benar penambang yang merusak, maka dirinya siap untuk mengarahkan pihaknya untuk bertanggung jawab.

“Namun kalau andaikan itu bukan ulah penambang kira-kira bagaimana?, Setau saya kalau bicara air bersih sumbernya itu tidak pernah tersentuh oleh penambang. Persoalan data itu perlu juga untuk dievaluasi dengan cara melihat, bukan langsung menyalahkan seperti itu,” kata Limonu.

Menurut dia, semenjak bertempat di Kantor APRI Pohuwato di Desa Taluduyunu Utara sampai sekarang air yang berada di tempat tersebut tidak bisa digunakan, jangankan mandi, cuci kaki pun kita merasa jijik.

Bahkan beberapa bulan kemarin ia sempat didatangi pihak PDAM karena belum membayar air, memang sengaja belum bayar agar supaya mereka bisa datang. Saat itu ia menanyakan kepada mereka terkait kondisi air yang sering keruh, mereka menjawab hal tersebut disebabkan adanya bak yang ada di Desa Hulawa sudah tidak diperbaiki lagi.

“Kalau sampai airnya belum mengalami jernih saya juga belum bayar. Bayangkan menunggu itu saya kasih mengalir lama, tapi tetap saja lumpur yang keluar,” katanya.

“Jadi saya berharap, jangan nanti ketika ada keluhan masyarakat, kemudian pihak PDAM langsung menyatakan itu kesalahan penambang. Kalau pun itu kesalahan penambang saya minta kita harus mencarikan solusi. Karena saya tidak ingin pernyataan Direktur PDAM itu dapat memicu emosinya para penambang,” pungkasnya. (Ramlan/Abstrak).