Bebas

Kolaborasi Kementerian dan Kampus, Bigo Selatan Jadi Sentra Edukasi Bawang Merah

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; captureOrientation: 0; algolist: 0; multi-frame: 1; brp_mask:8; brp_del_th:0.0003,0.0000; brp_del_sen:0.0800,0.0800; motionR: 0; delta:null; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (0.5030156, 0.60755956);sceneMode: 3145728;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 285.79987;aec_lux_index: 0;albedo: ;confidence: ;motionLevel: 0;weatherinfo: null;temperature: 42;

Abstrak.id – Desa Bigo Selatan, Kecamatan Kaidipang kini mencatat sejarah baru. Desa yang berada di kawasan pegunungan dengan lahan pertanian yang subur ini resmi dipilih sebagai lokasi utama pelaksanaan Sosialisasi Program dan Pelatihan Mahasiswa Berdampak Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktiksaintek), bekerja sama dengan Universitas Dumoga Kotamobagu (UDK).

Kegiatan yang digelar mulai Sabtu, 4 Oktober hingga Minggu, 5 Oktober 2025 ini diawali dengan agenda pembukaan yang secara resmi terlaksana di Kantor Desa Bigo Selatan.

BebasBebas

Antusiasme masyarakat terlihat jelas sejak awal acara, terutama para ibu-ibu yang menjadi peserta utama dalam program pelatihan pengelolaan bawang merah.

Bigo Selatan jadi Pusat Pembelajaran

Bigo Selatan dipilih bukan tanpa alasan. Desa ini dikenal dengan hamparan kebun dan lahan yang potensial untuk pertanian.

Sebagian masyarakatnya sudah terbiasa menanam komoditas hortikultura, termasuk bawang merah, meskipun masih dalam skala terbatas. Melalui program ini, Bigo Selatan diharapkan mampu menjadi pusat edukasi sekaligus percontohan pengelolaan bawang merah yang bernilai ekonomi tinggi.

Dalam pelatihan, peserta dibimbing langsung oleh 10 dosen dan 10 mahasiswa UDK. Materi yang disajikan meliputi teknik budi daya modern, perawatan tanaman, pengelolaan pascapanen, hingga strategi menjadikan bawang merah sebagai produk olahan bernilai jual. Harapannya, ilmu yang ditransfer dapat membekali masyarakat agar mampu mengembangkan potensi desa secara mandiri.

Bantuan Alat Pengelolaan untuk Desa

Selain pembekalan teori dan praktik, kegiatan ini juga menghadirkan dukungan berupa pemberian bantuan alat pengelolaan bawang merah.

Peralatan tersebut diserahkan langsung kepada pemerintah Desa Bigo Selatan untuk digunakan secara bersama oleh masyarakat atau peserta pelatihan.

Dengan adanya fasilitas ini, para petani dapat lebih mudah mengelola hasil panen, meningkatkan kualitas produksi, serta memperluas peluang pemasaran.

Komitmen Kampus untuk Desa

Rektor UDK, Dr. Moharto, S.Pd.I, S.E, M.Si, menegaskan bahwa kehadiran kampus di Bigo Selatan merupakan wujud nyata pengabdian kepada masyarakat.

“Selain mendorong kemajuan pendidikan dengan dukungan beasiswa sekitar 500 penerima di Bolaang Mongondow Raya, UDK ingin memastikan ilmu pengetahuan hadir di tengah masyarakat. Bigo Selatan dipilih karena desa ini memiliki potensi besar. Melalui pelatihan dan pemberian peralatan pengelolaan bawang merah, kami ingin melahirkan kemandirian ekonomi dari desa,” ujarnya.

Apresiasi Pemerintah Daerah

Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara turut memberikan apresiasi. Asisten III Setda, Nazarudin Maloho, mewakili Bupati menyampaikan rasa syukur atas pelaksanaan kegiatan di Desa Bigo Selatan.

“Kami bersyukur karena Bigo Selatan menjadi lokasi terpilih. Atas nama pemerintah daerah, kami berterima kasih kepada kementerian dan UDK yang sudah mempercayakan desa ini. Pelatihan dan Bantuan peralatan yang diberikan tentu akan sangat membantu masyarakat untuk mengembangkan potensi pertanian mereka,” tuturnya.

Suara dari Desa

Kehadiran program ini disambut hangat oleh pemerintah desa. Sangadi Bigo Selatan, Yusman Hunowu, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting bagi masyarakat Bigo Selatan.

“Kami menyambut baik program ini. Dengan adanya pelatihan serta bantuan peralatan, masyarakat Bigo Selatan tidak hanya belajar bercocok tanam, tetapi juga memahami bagaimana mengelola hasil bawang merah hingga siap dipasarkan. Ini langkah maju bagi desa kami untuk lebih mandiri,” katanya.

Yusman menekankan bahwa program ini selaras dengan harapan pemerintah desa yang selama ini berupaya mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi petani tradisional, tetapi juga mampu mengembangkan hasil kebun menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Menurutnya, pemberdayaan ibu-ibu desa melalui pelatihan langsung dari dosen dan mahasiswa menjadi modal berharga, karena ilmu yang mereka dapatkan bisa ditularkan kepada keluarga dan lingkungan sekitar.

Ia juga menyebutkan, keberadaan bantuan alat pengelolaan bawang merah menjadi bukti nyata dukungan pemerintah pusat dan kampus terhadap Bigo Selatan.

Fasilitas ini akan mempermudah masyarakat dalam mengolah hasil panen, sekaligus membuka peluang bagi lahirnya kelompok usaha baru yang berbasis pada hasil pertanian bawang merah.

“Kami percaya, dengan ilmu dan sarana yang diberikan, Bigo Selatan bisa melangkah lebih jauh. Desa kami memiliki lahan subur di kaki pegunungan, masyarakat yang mau belajar, dan semangat gotong royong yang kuat. Semua itu adalah modal untuk menjadikan Bigo Selatan sebagai desa yang maju dan mandiri,” tambah Yusman.

Dengan penuh optimisme, Sangadi menegaskan bahwa pihaknya siap mendukung keberlanjutan program serupa di masa mendatang.

Ia berharap, kehadiran kementerian dan UDK tidak berhenti sampai di sini, melainkan berlanjut dengan pendampingan jangka panjang sehingga manfaatnya bisa dirasakan secara berkelanjutan oleh warga desa.

Kehadiran Tokoh dan Partisipasi Masyarakat

Pembukaan kegiatan juga dihadiri oleh para Wakil Rektor UDK, Camat Kaidipang Ilham Fares Lalisu, pendamping desa, serta masyarakat setempat. Kehadiran para tokoh ini menambah semarak acara dan memperkuat dukungan terhadap pengembangan Bigo Selatan.

Masyarakat terlihat antusias mengikuti rangkaian materi. Para ibu-ibu, sebagai peserta utama, berharap ilmu yang diberikan dapat menjadi bekal dalam meningkatkan penghasilan keluarga.

Harapan untuk Masa Depan

Dengan dilaksanakannya program ini, Desa Bigo Selatan tidak hanya menjadi lokasi pelatihan, tetapi juga diharapkan tumbuh sebagai pusat edukasi dan inovasi pengelolaan bawang merah di wilayah Bolaang Mongondow Utara.

Kolaborasi kementerian, kampus, dan masyarakat desa diyakini akan melahirkan dampak nyata bagi perekonomian lokal.

Bigo Selatan kini menatap masa depan dengan optimisme, membawa semangat baru untuk menjadi desa yang maju melalui potensi pertanian yang dikelola secara modern dan berdaya saing.

(AM/Abstrak)