Abstrak.id – Bank Rakyat Indonesia (BRI) kembali mendapat sorotan terkait kualitas layanan di wilayah Pohuwato, Gorontalo.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Pemkesra) Kabupaten Pohuwato meminta agar BRI segera mengedepankan prinsip Service Excellence dalam setiap aspek pelayanan, terutama di daerah pedesaan.
Hal ini diperlukan untuk memastikan bahwa BRI, sebagai BUMN, dapat terus memberikan pelayanan publik yang prima dan merata di seluruh pelosok Indonesia.
Keluhan nasabah terkait buruknya pelayanan BRI di Pohuwato telah mencuat kembali. Beberapa laporan media menunjukkan bahwa masalah serupa sebelumnya juga pernah terjadi, menciptakan ketidakpuasan di kalangan masyarakat setempat.
Pemkesra menilai, sebagai bank milik negara, BRI memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi yang terdepan dalam memberikan layanan terbaik, terutama di daerah-daerah terpencil yang sering kali terabaikan.
“Sebagai bank milik pemerintah yang berfokus pada pelayanan masyarakat, BRI harus dapat menjadi contoh utama dalam memberikan layanan yang tidak hanya efisien, tetapi juga humanis,” ungkap
Asisten Pemkesra.
Ia menekankan pentingnya evaluasi internal untuk meningkatkan kualitas layanan, agar BRI bisa berperan lebih optimal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya sektor pertanian, perdagangan, dan UMKM.
BRI, yang telah lama dikenal sebagai mitra utama bagi petani, pedagang, dan pelaku UMKM, memang memiliki peran besar dalam mendukung perekonomian daerah.
Namun, kepercayaan masyarakat terhadap kualitas layanan perlu terus dijaga dan ditingkatkan, terutama dalam hal komunikasi dan interaksi yang lebih baik dengan nasabah.
“Nasabah adalah raja, tanpa memandang besar kecilnya dana yang mereka simpan. Setiap nasabah harus diperlakukan dengan baik dan setara,” tegas Asisten Pemkesra.
Ia menambahkan bahwa pelayanan yang tidak memadai dapat merusak reputasi BRI sebagai lembaga yang diharapkan memberikan layanan publik terbaik.
Salah satu pengalaman pribadi yang pernah dirasakan pejabat Pemkab Pohuwato itu menggambarkan betapa pentingnya sikap profesionalisme dalam layanan BRI.
Arman menceritakan saat ia mengunjungi kantor BRI untuk memperoleh informasi mengenai kemitraan pembiayaan, merasa kecewa setelah mendapat perlakuan yang kurang ramah dari seorang pegawai BRI.
Menariknya, ia sengaja tidak mengungkapkan identitasnya agar diperlakukan seperti nasabah biasa, namun tetap merasa diperlakukan dengan sikap angkuh.
“Saya tidak memberitahukan identitas pekerjaan saya, berharap bisa diperlakukan seperti nasabah biasa. Namun, perlakuan yang saya terima sangat tidak sesuai, dan itu sangat mengecewakan,” tutur Plt Kadis Pendidikan Pohuwato itu.
Meskipun merasa kecewa, ia bersyukur karena pimpinan BRI di lokasi tersebut segera turun tangan untuk meminta maaf dan menyelesaikan masalah tersebut.
Arman Mohamad pun menekankan bahwa insiden ini harus menjadi pelajaran berharga bagi BRI untuk meningkatkan kualitas layanan.
“Oknum pegawai BRI perlu lebih banyak belajar tentang sikap dan cara berkomunikasi yang baik dengan nasabah. Layanan yang buruk bisa merusak citra BRI sebagai bank milik negara, yang seharusnya menjadi panutan dalam hal pelayanan publik,” tuturnya.
BRI diharapkan untuk lebih responsif terhadap kritik dan terus melakukan perbaikan dalam setiap aspek layanan.
Hal ini tidak hanya untuk menjaga citra BRI sebagai bank yang dipercaya oleh masyarakat, tetapi juga untuk memastikan bahwa BRI tetap menjadi mitra utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan memperkuat ekonomi masyarakat di seluruh Indonesia.
(Ramlan/Abstrak)