Menu Tutup

Terancam Gagal Maju Pilkada Pohuwato, Suharsi Igirisa Mendukung atau Melawan Saipul-Iwan?

Abstrak.id – Konstelasi politik di Kabupaten Pohuwato mengalami perubahan yang sangat signifikan. Partai Golkar, yang sebelumnya menjadi salah satu tumpuan harapan Suharsi Igirisa-Ibrahim T.Sore (SAHIB), kini bergabung dengan koalisi Saipul A. Mbuinga-Iwan S. Adam (SIAP) dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Pohuwato. Langkah ini meninggalkan pasangan Suharsi-Ibrahim dalam posisi yang semakin terjepit.

Keputusan Golkar untuk berkoalisi dengan SIAP adalah pukulan berat bagi Suharsi Igirisa dan Ibrahim T. Sore. Keduanya telah dianggap sebagai calon yang kuat dan potensial, namun tiba-tiba ditinggalkan Partai Golkar. Mereka menghadapi tantangan besar untuk mendaftarkan diri sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati Pohuwato di KPU Pohuwato pada 27-29 September 2024 mendatang.

Ada spekulasi bahwa upaya ini adalah bagian dari strategi untuk mencegah mereka dari maju dalam pilkada, mengingat kekuatan yang mereka tunjukkan sebagai pasangan.

Pernyataan dari seorang warga Kecamatan Popayato Timur yang enggan disebutkan namanya menegaskan bahwa “Ibu ini (Suharsi Igirisa) benar-benar kuat, dan diperhitungkan. Jadi, dia dan Pak Ibrahim sengaja dijegal agar tidak bisa mencalonkan diri sebagai Bupati dan Wakil Bupati Pohuwato 2024,” ungkap warga tersebut.

Pernyataan ini menggarisbawahi ketidakpuasan dan kecurigaan yang berkembang di masyarakat terkait keputusan Golkar. Namun, kekecewaan dan kemarahan dalam dunia politik bukanlah hal yang baru. Iwan S. Adam sendiri pernah merasakannya pada Pilkada sebelumnya.

Ketika rekomendasi dari Partai Golkar tidak diberikan kepadanya, Iwan memilih keluar dari Golkar dan maju sebagai calon bupati bersama Zunaidi Z. Hasan. Pasangan ini didukung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Meskipun langkah tersebut tidak membuahkan hasil yang diinginkan saat itu, kini Iwan merasakan kesempatan baru. Ia kembali berpasangan dengan Saipul A. Mbuinga sebagai calon wakil bupati, menunjukkan bahwa kepahitan politik bisa berubah menjadi peluang baru.

Sekarang, perhatian publik beralih pada sikap Suharsi Igirisa menjelang Pilkada 2024. Setelah kegagalan mereka untuk melaju ke pemilihan, Suharsi harus menentukan langkah selanjutnya.

Pertemuan antara Ketua dan Sekretaris DPD II Golkar Pohuwato, Nasir Giasi dan Al Amin Uduala, bersama koalisi Saipul-Iwan yang berlangsung di kediaman Adnan Mbuinga, yang juga kakak kandung Saipul, memberikan sinyal kuat tentang arah politik yang sedang terbentuk.

Meskipun belum ada pernyataan resmi dari Partai Golkar terkait pertemuan ini, spekulasi publik dan pengamat politik menilai bahwa informasi tersebut benar adanya.

Dilema yang dihadapi Suharsi dan Ibrahim tidak hanya berkisar pada politik semata. Ada pula pertanyaan tentang apakah PKB akan bergabung dengan koalisi SIAP atau justru akan beroposisi.

Dalam politik, keputusan untuk beroposisi atau bergabung dengan koalisi adalah hal yang krusial dan sering kali mempengaruhi masa depan karir politik individu.

Dengan kegagalan Suharsi-Ibrahim dalam Pilkada Pohuwato, Saipul-Iwan tampaknya akan menghadapi lawan yang lemah, yakni kotak kosong, dalam pertempuran politik mendatang. Ini memberikan keuntungan strategis yang signifikan bagi koalisi SIAP.

Sementara itu, jika Suharsi memilih untuk beroposisi dan tidak mendukung Saipul-Iwan, ia berisiko kehilangan dua hal penting. Pertama, sebagai kader Partai Golkar, Suharsi mungkin akan kehilangan dukungan politik yang sangat berharga.

Kedua, sebagai orang tua, Suharsi menghadapi ancaman terhadap karir anaknya, Mohammad Rizky Alhasni, yang baru saja terpilih sebagai Anggota DPRD Pohuwato dari Partai Gerindra yang dipimpin oleh Saipul A. Mbuinga.

Pilihannya, apakah mendukung Saipul-Iwan atau menentangnya, akan menentukan tidak hanya masa depannya tetapi juga masa depan politik anaknya dan dampaknya terhadap hubungan politik di Pohuwato.

Kegagalan Suharsi dan Ibrahim untuk melaju ke Pilkada mungkin saja menandakan pergeseran kekuatan politik di daerah tersebut, dan langkah-langkah politik berikutnya akan sangat menentukan bagaimana konstelasi politik akan terbentuk.

Dalam konteks yang lebih luas, perkembangan ini menggambarkan bagaimana aliansi politik bisa berubah drastis dan bagaimana individu harus beradaptasi dengan dinamika yang selalu berubah.

Politik adalah arena yang penuh dengan ketidakpastian, dan keputusan yang diambil oleh para aktor politik akan terus mempengaruhi lanskap politik lokal serta masa depan mereka sendiri.

Seiring dengan semakin dekatnya Pilkada Pohuwato, semua mata akan tertuju pada bagaimana Suharsi Igirisa dan Ibrahim T. Sore akan merespons situasi ini dan langkah apa yang akan mereka ambil selanjutnya. (Ramlan/Abstrak).