Defisit Gerakan Organisasi Mahasiswa

  • Bagikan
Gerakan Organisasi Mahasiswa
Reski Laoh. Foto: istimewa

Mahasiswa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah panjang perjalanan bangsa ini, sejak pra-kemerdekaan sampai pada tahap pasca kemerdekaan. Gerakan-gerakan mahasiswa yang puncaknya pada tahun 1998 menjadi bukti betapa kuatnya pondasi perjuangan kaum intekltual ini.

Namun, dewasa ini gerakan mahasiswa yang bernaung dalam satu perkumpulan “organisasi mahasiswa” tidak lagi mewarisi marwah dari mahasiswa era sebelumnya.

Di situasi seperti ini, tentu tidak ada yang patut untuk disalahkan, hanya saja kesadaran akan tanggungjawab sosial adalah hal yang paling urgent untuk dilaksanakan sebagai mahasiswa.

Memang benar, bahwa gerakan mahasiswa bersifat dinamis terlebih di zaman yang sudah modern seperti ini. Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa perkembangan teknologi merupakan salah satu faktor penyebab dari perubahan pola pikir organisasi mahasiswa, yang kini cenderung apatis, individualis dan terkadang hedon terhadap kebijakan sosial.

Selain itu, organisasi mahasiswa cenderung kelihatan kehilangan “orientasi gerakan”. Hal ini tentu sudah menjadi rahasia umum dan dapat kita lihat di beberapa organisasi mahasiswa terutama internal kampus.

Kegiatan demi kegiatan terus menghantui mahasiswa, demi mencari rating tertinggi yang akan di input di sistem informasi manajemen pemeringkatan kemahasiswaan.

Organisasi mahasiswa seakan digiring untuk mengikuti alur yang dijalankan di universitas dan tentu berimbas pada gerakan mahasiswa yang nantinya hanya akan sibuk dikegiatan saja.

Tidak hanya itu, pembatasan demi pembatasan terkait pandemi terus digencarkan dan ironisnya pembatasan itu justru tanpa disadari menutup langkah advokasi dan edukasi terhadap masyarakat yang menjadi tugas pokok serta fungsi mahasiswa.

Melihat kondisi yang terjadi saat ini, penulis teringat akan perkataan dari Freidrich Nietzcshe yaitu “Lonceng Kematian”. Semoga saja hal itu belum benar-benar terjadi. Sebab, jika ini terjadi maka bersiaplah untuk melihat gerakan-gerakan mahasiswa dimakamkan dalam selembar kertas.

Terakhir, penulis berharap semoga lewat tulisan ini akan membuka kerangka berpikir kaum perubahan dan yang paling terakhir penulis menyampaikan cepatlah sadar para penggerak organisasi mahasiswa.

Penulis: Reski Laoh, Mahasiswa Biasa

  • Bagikan
Bebas