Dighosting Bukan Akhir dari Segalanya

  • Bagikan
Ghosting
Foto: Opini.id

Bicara soal Ghosting, Ghosting adalah saat dimana seseorang yang sedang dekat dengan kamu, atau seseorang yang sedang menjadi pacar kamu mengakhiri hubungan dengan memutus semua komunikasi tanpa penjelasan apapun.

Jadi, tiba-tiba menghilang begitu saja seperti hantu!. Dilansir dari Psychology Today, Ghosting merupakan Silent Treatment yang sering dianggap oleh para profesional kesehatan mental sebagai bentuk kekejaman emosional loh…

Tapi penting untuk dapat membedakan perilaku Ghosting dengan melarikan diri dari hubungan yang kasar. Jika kamu berada dalam hubungan yang tidak sehat yang membuatmu tidak aman secara fisik dan emosional, kamu berhak kok melarikan diri karena itu bukanah sebuah perilaku Ghosting.

Ghosting pada dasarnya membuat para korbannya merasa bingung dan tidak berdaya. Tidak hanya itu saja, perilaku Ghosting juga membuat para korbannya sulit untuk mengekspresikan emosi mereka.

Nah… ada beberapa hal yang mendasari seseorang melakukan Ghosting pada pasangannya, yaitu : Cinta yang hanya sesaat, merasa insecure dengan pasangannya, menjadi bahan pelarian, takut untuk menjalani komitmen, merasa bosan, tidak ingin mendapatkan kekangan, hingga yang paling parah pergi ke lain hati.

Well… apapun alasannya, Ghosting tetaplah bukan hal yang baik. Karena masih banyak cara lain yang jauh lebih baik untuk mengakhiri suatu hubungan. Jika kamu pelaku Ghosting sebaiknya kamu cepatlah insaf!.

Perlu diketahui dampak dari perilaku Ghosting itu sendiri pada kondisi psikologi adalah perasaan depresi, marah, sampai merasa tidak diinginkan mungkin akan dialami para korbannya.

Mereka juga bisa mengalami trauma untuk menjalin hubungan di masa depan karena mereka takut akan ditinggalkan dengan cara yang sama. Mengerikan bukan? Sebuah luka yang amat lama untuk disembuhkan.

Psikolog Analisa Widyaningrum membagikan tips move on jika terjebak dalam situasi Ghosting :

Menerima kenyataan jika kamu adalah korban Ghosting

Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintai kita. Maka dari itu, menurut saya sebelum memutuskan untuk mencintai seseorang kita harus bisa lebih dahulu mencintai diri sendiri. Dan jangan berharap pada manusia, karena menusia bisa berubah.

Membiarkan dan merasakan segala emosi yang hadir dan menyadari apa yang muncul

Artikulasikanlah perasaanmu, dalam artian kamu sedih, kecewa, marah, atau jengkel. Lalu setelah itu kamu dapat memberikan waktu pada dirimu, mau sampai kapan kamu berada dalam emosi itu.

Identifikasi apa yang kamu butuhkan, agar kamu tidak menyalahkan dirimu sendiri

Saat kamu sudah memahami perasaanmu, kamu akan dapat mengetahui apa yang dirimu butuhkan. Kamu sudah menyadari segala hal sehingga kamu tidak akan menyalahkan dirimu sendiri. Karena menyalahkan diri sendiri tidak akan memperbaiki kondisi.

Hilangkan keinginan untuk menghubungi si pelaku Ghosting

Melakukannya hanya akan menambah luka di hati dan semakin menyakiti diri sendiri. Ingatlah perilakunya yang sudah menyakiti perasaanmu. Seperti apa yang diungkapkan oleh Rosie Walsh penulis buku ‘Ghosted’

“Saat seseorang melakukan Ghosting, berarti kamu sudah mendapatkan akhir dari hubunganmu. Hanya saja Ghosting adalah bentuk jahat dan tidak sopan dari mengakhiri hubungan.”

Jadi, jangan terus berpaku pada satu orang saja ya… Ingat diluar sana masih banyak orang yang jauh lebih baik dari dia. Hidupmu tidak hanya tentang dia.

Kamu harus menyadari jika orang-orang disekitarmu yang selama ini baik padamu, mereka itu jauh lebih penting untuk kamu pedulikan daripada satu orang yang memberikanmu luka dan membuat hatimu kecewa.

Jangan menyendiri terlalu lama

It’s okay… jika kamu ingin memberi waktu sendiri untuk dirimu. Tapi menyendiri terlalu lama itu juga tidak baik. Karena saat kita sedih dan mendapati diri sendiri ini sendirian, kita justru akan lebih merasa kesepian. Sedih yang harusnya ingin diobati malah menjadi semakin parah.

Cobalah untuk menghubungi keluarga, atau sahabatmu. Jadi, tetaplah berikan diri sendiri waktu untuk bersosialisasi walaupun perasaan tidak sedang tidak terlalu baik-baik saja.

Kita tidak pernah tahu sebelum kita mencobanya, ‘kan? Siapa tahu keluarga atau sahabat yang kita hubungi dapat membantu kita untuk bangkit dari rasa kecewa.

Pada intinya, kita manusia harus tetap melangkah kedepan karena waktu terus berjalan. Hidup tidak hanya tentang menunggu dan memahami perasaanmu. Jangan habiskan waktumu yang berharga untuk memikirkan dan mengharapkan seseorang yang sudah memilih untuk meninggalkanmu.

Menurut saya, saat kita jatuh cinta, kita juga harus siap untuk kecewa. Tapi untuk meminimalisir rasa kecewa, saya punya Quote favorit dari Psikolog Analisa Widyaningrum yaitu “Ketika kamu bisa mencintai diirmu sendiri, kamu bisa lebih bijak dalam mencintai orang lain.”

Nah… bijak dalam mencintai ternyata sangat diperlukan. Iya, karena manusia tidak akan hidup selamanya, suatu saat orang yang kita cintai bisa saja akan meninggalkan kita atau sebaliknya kita yang akan meninggalkan mereka. Di dunia ini tidak ada yang abadi. Maka dari itu, cintailah pasanganmu dengan porsi yang cukup.

Dan untuk pelaku Ghosting, jangan anggap perilakumu itu adalah jalan yang terbaik untuk mengakhiri hubunganmu dengan pasangan. Jangan juga anggap perilaku Ghosting sebagai perilaku yang wajar.

Kamu tidak seharusnya menjadi Pengecut. Hubungan yang kamu awali dengan baik harus diakhiri juga dengan baik-baik. Karena bagaimanpun, apa yang kamu tanam itu yang akan kamu tuai. Bisa jadi di masa depan kamu akan diperlakukan dengan perilaku yang sama.

Penulis: Ramiza Inne Istanti 

  • Bagikan
Bebas
%d blogger menyukai ini: