Menu Tutup

KAMMI Nani Wartabone Melangkah (Refleksi Muskom KAMMI)

Abstrak.id – Kaki dan pundak tidak akan cukup kuat melangkah sendiri, perlu bahu untuk bersandar dan kata untuk menyemangati.

Hari ini merupakan momentum mengevaluasi perjuangan langkah selama setahun lamanya.

Sejak terbentuknya KAMMI Komisariat Nani Wartabone di bawah komando Akh Ujang Zulkifli, yang telah memberi makna tentang arti melangkah.

Kondisi hari ini menggambarkan suksesnya langkah yang diambil sebelumnya. Walaupun terkadang melambat, bahkan terhenti. Itu tak menjadi soal. Karena makna dari melangkah adalah terus maju.

Kemudian sadar bahwa langkah ini tak boleh mengalami kemunduran, sebab ada janji perjumpaan yang perlu ditunaikan.

“Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata” -W.S. Rendra-

Pergiliran kepemimpinan itu sebuah keniscayaan, dan merujuk pada WS Rendra, kepemimpinan itu adalah manifestasi dari kesadaran, kesabaran, keberanian, dan perjuangan.

Sadar bahwa ia adalah bagian dari pemikul beban, dan berkomitmen untuk mewakafkan dirinya sebagai sebuah beban.

Sabar akan segala rintangan dalam proses berkontribusi untuk organisasi. Berani mengatakan yang benar sebagai kebenaran, dan berjuang untuk selalu mempertahankan api perjuangan.

Ketua dan pengurus telah menunjukan hal tersebut. Sebab peradaban gemilang akan segera hadir dari Kampus Universitas Negeri Gorontalo.

Kapasitas dan kualitas itu masih bisa ditingkatkan. Namun, keinginan untuk terus melangkah adalah hal yang tak semua orang mau ikut terlibat.

Saya merasa bangga dan berterima kasih atas pengabdian seluruh stakeholder KAMMI Komisariat Nani Wartabone yang sudah berkonstribusi dengan maksimal.

Ingatlah, selalu keberhasilan sebuah kepengurusan adalah mampu melahirkan gagasan, ide, dan pemimpin yang baru.

Selamat atas pencapaiannya. Hasilkanlah keputusan yang mampu membawa organisasi, kampus, dan negara menuju perdaban yang islami.

Sampai ketemu di jalanan perjuangan para pelangkah KAMMI Nani Wartabone.

Penulis: Ahmad Randi