Mahasiswa KKN UNG Hadirkan 10 Program Inovatif di Desa Botuboluo

  • Bagikan
KKN UNG
Foto bersama mahasiswa KKN UNG, para dosen, karang taruna, pemerintah desa usai pelaksanaan "Workshop Terpadu Pemberdayaan Masyarakat Desa Membangun". Foto: istimewa

Abstrak.id – Mahasiswa KKN Tematik Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus melahirkan ide dan inovasi dalam mendorong kemajuan daerah.

Hal ini seperti yang dilakukan mahasiswa KKN Tematik UNG Tahun 2021 di Desa Botuboluo, Kecamatan Bilihu, Kabupaten Gorontalo. Sebelum penarikan, mahasiswa melaksanakan 10 program di desa itu.

Beberpa program itu pertama, melaksanakan pelatihan leadership pada Pokdarwis dan Pokmaswas guna peningkatan kinerja.

Kedua, melaksanakan pelatihan leadership pada Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) melalui pelatihan pengelolaan sumber daya yang ada di desa.

Ketiga, melaksanakan pelatihan pemanfaatan limbah organik dan anorganik menjadi sebuah produk bernilai jual. Keempat, melakukan penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat guna meningkatkan keterampilan produk olahan ikan sulo-sulo didesa Botuboluo.

Kelima, pengembangan spot wisata Desa Botuboluo dengan tahapan seperti marketing reasearch, situational analisis, marketing target, tourism promotion, dan pemberdayaan masyarakat setempat.

Pengembangan wisata juga melibatkan dinas pariwisata, Bumdes, Pokdarwis, dan Pokmaswas guna peningkatan pariwisata di Desa Botuboluo.

Keenam, melaksanakan workshop perawatan mesin katinting bagi nelayan. Ketuju, memberi penyuluhan tentang profesi petani  dalam meningkakan petani mudah milenial yang kreatif.

Kedelapan, melaksankan program kampus mengajar guna peningkatan SDM yang ada di Desa Botuboluo. Kesembilan, membentuk organisasi PIK jalur masyarakat.

Sementara yang kesepuluh, melaksanakan pelatihan IT bagi organisasi kepemudaan Desa Botuboluo.

Beberapa program dilaksanakan dalam 2 bulan sebelum penarikan dengan range waktu yang berbeda di tiap programnya.

Sepuluh program tersebut dilaksanakan berdasarkan hasil survei analisis situasi dan permasalahan di desa tersebut.

Ada beberapa program disatukan sekaligus dalam “Workshop Terpadu Pemberdayaan Masyarakat Desa Membangun”.

Program itu di antaranya melaksanakan pelatihan pada bumdes serta melakukan penyuluhan dan pelatihan guna meningkatkan keterampilan produk olahan ikan sulo-sulo.

Kemudian pelatihan pemanfaatan limbah organik dan an-organik ,dan melakukan pelatihan IT bagi kepemudaan desa, organisasi desa dan aparat desa.

Kepala Desa Botuboluo, Acun Herdiksan Tooli yang membuka langsung kegiatan itu memberikan apresiasi besar para mahasiswa KKN UNG Tahun 2021.

Program Pelatihan Leadership Bumdes

Mahasiswa KKN UNG 2021 melaksanakan program pelatihan pada Bumdes. Hal itu dilakukan guna mendorong Bumdes lebih berkembang dan dapat berinovasi dalam mengembangan usahanya.

Pelatihan leadership ini juga turut dihadiri oleh perwakilan-perwakilan dari desa tetangga.

Kegaitan mengundang TIM Dosen dari FIP UNG, yaitu .Dr. Abdul Hamid Isa, M.Pd , Dr. Mohamad Zubaidi, S.Pd., M.Pd. Zulkarnain Anu , S.Pd., M.Pd, untuk memberikan materi dan pelatihan dalam program itu.

Pada kesempatan itu, Mohamad Zubaidi menjelaskan pentingnya keberadaan Bumdes bagi desa. Menurutnya pemanfaatan alam dari hasil gunung dan laut bisa mendatangkan nilai ekonomis lebih jika dikelola dengan baik

Mohamad Zubaidi mengatakan kontribusi dari hasil alam gunung dan laut mesti dikelola dengan baik oleh Bumdes. Bumdes juga, kata dia,’mesti melibatkan masyarakat setempat

“Bumdes itu adalah jantung desa, hasil ekonomi ataupun perkembangan desa dilihat dari desa itu sendiri,” ujarnya.

Program Penyuluhan dan Pelatihan Guna Meningkatkan Keterampilan Produk Olahan Ikan Sulo-Sulo

Program penyuluhan dan pelatihan guna meningkatkan keterampilan produk olahan ikan sulo-Sulo dilaksanakan karena melihat potensi yang ada di desa.

Saat ini, masyarakat Desa Botuboluo sudah bisa mengelola ikan tersebut menjadi snack ringan dengan nama produk “Abon Tuna Malita”.

Mahasiswa KKN Tematik 2021 UNG dalam melaksanakan kegiatan itu mengundang dosen dari FIP UNG yaitu Dra. Rapi Us. Djuko , M.Pd  dan Dosen Perikanan UMG yaitu ibu Indri Afriani Yasin, Ph.D.

Rapi Us. Djuko mengatakan banyak hal dan inovasi yang bisa dilakukan dalam pengelolaan ikan sulo-sulo

Menurut dia, pengelolaannya tidak mesti hanya terapaku pada satu jenis kategori gorengan saja, melainkan bisa dikelola dengan cara lain, misalnya, menjadi snack seperti ikan tuna.

“Pada saat membuat ikan sulo-sulo yang terlintas dalam pikiran saya, yaitu menjadikan ikan sulo-sulo menjadi abon sama pada umumnya, karena dilihat dari sikon saat itu bahan-bahan nya juga mudah di dapat,” ujarnya.

Dia menjelaskan proses pembuatan ikan sulo-sulo cukup sederhana. Peralatan yang dibutuhkan juga mudah didapatkan.

Pembuatannya, kata dia,  dimulai dari membersihkan ikan sulo-sulo, kemudian membuat adonan serta menggorengnya di minyak panas.

Pada pelaksanaannya, program itu melahirkan inovasi pengolahan ikan sulo-sulo menjadi gorengan dengan nama “Ekado”.

Menurut Rizal, penanggung jawab dalam program itu, keberadaan ikan sulo-sulo ini memang bisa mendatangkan keuntungan ekonomis. Sehingganya, ia dan teman-temannya melaksanakan program tersebut.

“Kami membuat makanan ringan dalam kategori gorengan dengan bahan utamanya adalah ikan tuna. Makanan ini bisa dijadikan lauk untuk kita,” tutur rizal.

Setelah pengelolaan ikan itu, mahasiswa KKN UNG juga turut membantu memasarkan produk yang telah dihasilkan. Sebagai awal perkenalan, produk pun mulai dikenalkan di pasar, warung-warung, dan toko di sekitar Desa Botuboluo.

KKN UNG
Workhosp Penyuluhan dan Pelatihan guna meningkatkan keterampilan produk olahan ikan sulo-sulo. Foto: istimewa

Program Pelaksanaan Pelatihan Pemanfaatan Limbah Organik dan an-organik

Dalam pelaksanaan program pelatihan pemafaatan limbah organik dan an-organik, mahasiswa KKN Tematik UNG 2021 mengundang salah seorang wirausaha di bidang produk limbah organik dan anorganik sekaligus mahasiswa UNG yaitu Dian Hiyatul Jannah.

Dian memberikan pelatihan mengenai pemanfaatan limbah organik dan an-organik.

Program kerja ini dilatarbelakangi oleh mayoritas masyarakat yang merupakan pesisir pantai. Di desa itu juga banyak ditemukan sampah ranting ataupun sampah plastik/tas.

Dian menjelaskan pentingnya pemanfaatan lingkungan karena bisa dijadikan hasil jual yang bernilai dan memiliki keuntungan jangka panjang dalam memperbaiki lingkungan sekitar.

“Kan hasil lingkungan tersebut bisa dijadikan bingkai, hiasan kamar, dan lain-lain,” kata Dian.

Dian mengatakan, selain proses pembuatan yang sederhana, dua produk organik dan anorganik ini memanfaatkan limbah rumah tangga dan pohon-pohon pesisir laut sehingga membantu menjaga lingkungan sekitar.

KKN UNG
Pelaksanaan Pelatihan Pemanfaatan Limbah Organik dan an-organik. Foto: istimewa

Pelaksanaaan Program Pelatihan IT

Workshop pelatihan IT kepada pemuda desa, organisasi desa, dan perangkat Desa Botuboluo berlangsung dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan antusias dan semangat para pesrta yang hadir dalam kegiatan itu.

Pelatihan diisi oleh dua narasumber yang merupakan mahasiswa KKN dan mengambil juruan Teknik Informatika UNG. Kedua mahasasiswa itu yakni Sri Novia dan Isni Ardia.

Sri Novia sebagai narasumber pertama menekankan pentingnya pemuda dalam memahami pengelolaan Teknologi IT yang saat ini semakin berkembang.

“Dalam hal ini pemanfaatan media sosial diharapkan lebih bijak dalam hal berselancar di sosmed. Di era digital saat ini kita dituntut juga untuk lebih menggunakan logika kita dalam memilih dan memilah informasi yang ada,” katanya.

Selain itu, kata Novia, apabila pengelolaan IT dimanfaatkan dengan baik, maka hal itu dapat mendorong segala potensi yang dimiliki desa.

“Saat bermedia sosial, kita mesti lebih menggunakan etika. Hal yang utama juga, ketika teknologi informasi dimanfaatkan dengan baik maka bisa berpotensi untuk mengangkat potensi yang ada di desa,” ucapnya.

Pemberian materi pelaksanaan program pelatihan IT Foto: istimewa

Sementara itu, Isni Ardia menyampaikan pemanfatan IT dalam berbisnis, juga mesti melahirkan kreativitas dan keterampilan.

Satu juga hal yang penting, kata dia, adalah mesti menguasai informas dan teknologi.

“Sebab pada masa yang akan datang, penguasaan teknologi informasi akan menunjang tugas kita,” jelas Isni Ardia.

(Apris/Abstrak)

  • Bagikan
Bebas
%d blogger menyukai ini: