abstrak.id – Hidup yang bernilai adalah mengabdikan diri bagi orang banyak. Hal inilah yang dijalani Oktaviani Mansa.
Perempuan berumur 23 tahun itu ialah seorang pengajar di Komunitas Okta Mansa English Fluency Center (OMEFC).
Dirinya adalah almuni Ilmu Hukum di Universitas Negeri Gorontalo. Walau mengambil jurusan tersebut, tutor ini juga terbilang fasih dalam bercakap-cakap dengan bahasa Inggris.
Bahkan, OMEFC itu juga didirikannya dengan tujuan menjadi wadah pembelajaran bahasa Inggris untuk masyarakat Gorontalo.
Seperti yang berlangsung di Warung Kopi Uslap, Kota Gorontalo, Kamis (10/12/2020) malam.
Di tempat itu, OMEF menggelar Pelatihan TOEFL atau ujian kemampuan berbahasa Inggris.

Pelatihan itu dibuat bekerja sama dengan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Merah Maron Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Narasumbernya adalah Okta, sapaan akrab Okta Mansa. Kegiatan itu sendiri dipandu oleh Ketua LPM Merah Maron UNG, Ummul Uffia.
“Tujuan kegiatan ini untuk memberikan pelatihan TOEFL, karena saya melihat di Gorontalo, kegiatan seperti ini masih kurang dilaksanakan,” ucap Okta saat diwawancarai.
Ia pula menggelar pelatihan itu karena selama ini banyak mahasiswa yang takut ketika dihadapkan dengan ujian TOEFL.
Sehingganya, banyak mahasiswa yang terkendala ketika ujian kemampuan berbahasa Inggris.
Di sisi lain, kata Okta, pelatihan TOEFL cukup memakan biaya yang tidak sedikit.
“Apalagi jika sudah keluar biaya, tutor-nya juga tidak mengajarkannya secara detil,” ungkapnya.
Pelatihan TOEFL secara gratis itu diikuti oleh berbagai macam kalangan. Ada mahasiswa, dosen, serta para waratawan di Gorontalo.
Para peserta yang ikut nampak serius mendengarkan penjelasan Okta. Saat kegiatan, berlangsung juga tanya/jawab dan diskusi.

Ketua LPM Merah Maron UNG, Ummul Uffia mengungkapkan kegiatan itu bertujuan meningkatkan kemampuan mahasiswa atau masyarakat jika ingin mengikutinya.
“Untuk mahasiswa, ini penting sebagai pengalaman jika ingin lulus S-1 dan memasuki dunia kerja,” tuturnya.
Dirinya menjelaskan untuk masuk ke dunia kerja, rata-rata membutuhkan skor TOEFL. Di sisi lain, untuk masuk S-2 dan S-3 pun mensyaratkan hal tersebut.
“Jadi, sayang sih, jika ada simulasi seperti ini diadakan secara gratis, tetapi masih peminatnya itu kurang,” tandasnya.
(RA-02)