Menu Tutup

Siswa SMKN Taopa Diduga Dianiaya Saat Mengikuti PKL di Parigi

Abstrak.id – Kejadian mengejutkan terjadi dalam kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang diikuti oleh siswa SMK Negeri Taopa, jurusan Perikanan, di Kabupaten Parigi Moutong.

Salah satu siswa berinisial R, asal Kecamatan Taopa mendapatkan penganiayaan dari pemuda yang sedang mabuk. Peristiwa itu terjadi pada Rabu (18/9/2024), sekitar Pukul 05.00 WITA.

Insiden ini mengguncang dunia pendidikan di Taopa, menyisakan trauma bagi siswa dan orang tua. Awal dari insiden ini bermula ketika tiga pemuda yang sedang mabuk mendatangi kos-kosan tempat R dan teman-temannya tinggal.

Dalam suasana yang awalnya terlihat biasa, tiba-tiba salah satu pemuda tersebut melakukan pemukulan terhadap R tanpa peringatan.

Akibat serangan mendadak ini, R mengalami luka di bagian bibir, yang menambah beban psikologis di tengah suasana PKL yang seharusnya memberikan pengalaman belajar yang positif.

Orang tua R, yang masih merasakan ketakutan dan trauma, menyatakan kekhawatirannya. Mereka berencana untuk memulangkan anak mereka dari lokasi PKL, mengungkapkan kekecewaan terhadap kurangnya perhatian dari pihak sekolah.

“Sudah lebih dari dua bulan anak-anak ini tidak pernah mendapatkan perhatian dari pihak sekolah. Selain itu, mereka juga sudah dua kali pindah tempat,” ungkap orang tua R saat diwawancarai.

“Seharusnya kan pihak Sekolah memastikan kalau tempat yang mereka tempati itu akan dan tidak bebas di datangi orang lain,” katanya.

Kekhawatiran ini bukan hanya soal keselamatan, tetapi juga tentang dukungan moral yang seharusnya diberikan oleh sekolah kepada siswa-siswanya.

Di tengah situasi ini, Kepala Sekolah SMKN Taopa, Suparto Pakaya, menyampaikan bahwa masalah tersebut sudah dianggap selesai di antara siswa-siswa tersebut.

Menurutnya, pihak sekolah telah berkomunikasi dengan para siswa dan tidak ada keluhan lebih lanjut.

“Kami sudah konfirmasi dengan anak-anak, dan mereka mengatakan sudah tidak ada masalah. Salah satu guru juga akan berangkat ke Parigi untuk memonitoring situasi,” jelas Suparto.

Namun, ketika ditanya mengenai absennya pendampingan dari pihak sekolah selama kegiatan PKL, Suparto mengklaim bahwa pihaknya telah melakukan pengawasan. “Silakan tanya langsung kepada anak-anak, mereka yang mengalaminya,” tutupnya.

Kejadian ini menjadi sorotan penting, mengingat perlunya perhatian lebih dari pihak sekolah terhadap kesejahteraan dan keselamatan siswa, terutama selama kegiatan yang mengharuskan mereka berada jauh dari rumah.

Kejadian ini harus dijadikan pelajaran bagi semua pihak untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang. (Redaksi/Abstrak)