Menu Tutup

“The Power of Orphans” mengetuk Pintu Dunia dengan Rindu, Persembahan Abadi Yatim Paputungan untuk Sang Ibu Dan Almarhum Ayah

BOROKO – Di balik deretan pegunungan dan pesisir Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), lahir sebuah narasi luar biasa yang membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah tembok penghalang, melainkan batu loncatan. Abdul Yatim Paputungan, seorang pemuda lokal, baru saja merilis karya literatur yang menggetarkan hati berjudul The Power of Orphans (Kekuatan Anak Yatim).

Buku ini bukan sekadar susunan kata di atas kertas; ia adalah sebuah monumen rindu, sebuah surat cinta yang abadi, dan manifesto keberanian bagi mereka yang tumbuh tanpa belaian seorang ayah.

Mahakarya di Balik Kerinduan yang Tak Berujung

Bagi Yatim, menulis buku ini adalah cara untuk “mengekalkan” perjuangan sosok yang paling berarti dalam hidupnya: Ibunda Saluya Bukoting. Melalui setiap babnya, Yatim menggambarkan betapa besarnya pengorbanan seorang ibu yang harus berdiri kokoh sendirian menjadi tiang penyangga keluarga setelah kepergian Almarhum Ayah Djafar Paputungan.

“Buku ini adalah cara saya mengenang Ibu. Saya ingin perjuangannya kekal, melampaui waktu, agar dunia tahu bahwa ada kekuatan hebat di balik kasih sayang seorang wanita yang berjuang sendirian,” ujar Yatim dengan nada haru.

Namun, di balik dedikasi untuk sang ibu, terselip sebuah pengakuan jujur tentang “rindu yang tak kunjung temu” terhadap sosok Ayah. Rasa kehilangan itulah yang ia ubah menjadi energi positif untuk mengetuk pintu dunia.

Melampaui Batas Bukti Bahwa Anak Yatim Bisa “Terbang” Lebih Tinggi

Salah satu pesan paling kuat dalam The Power of Orphans adalah tentang pembuktian diri. Yatim ingin mendobrak stigma bahwa anak yang tumbuh tanpa ayah akan kehilangan arah atau tertinggal. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa dengan kemauan yang keras, anak yatim mampu melampaui pencapaian orang-orang yang memiliki keluarga utuh.

“Ada catatan sederhana yang ingin saya sampaikan kepada dunia: keterbatasan karena ditinggalkan ayah bukanlah akhir. Kita bisa melampaui batas, kita bisa berdiri lebih tegak, dan kita bisa sukses dengan cara kita sendiri,” tegasnya.

Kisah Yatim Paputungan kini menjadi obor motivasi bagi anak-anak di seluruh pelosok negeri, khususnya di Bolmut. Ia ingin setiap anak yang merasakan “pintu rumah yang sepi tanpa ayah” untuk tidak menyerah pada keadaan