Oleh: Arman Mohamad
Abstrak.id – Jumat dini hari(10-7-2026), ketika sebagian orang masih asyik menyaksikan pertandingan perempat final Piala Dunia antara Perancis dan Maroko, tiba-tiba kabar duka menyelinap di beranda media sosial dan ruang grup WhatsApp.
“Rachmat Gobel telah wafat.
Banyak orang terdiam, antara percaya dan tidak percaya. Belum ada berita resmi dari media nasional terverifikasi yang dapat memastikan kabar tersebut.
*”Betul Pak Rachmat sudah meninggal?”*
Kalimat itu menjadi pertanyaan yang berseliweran di berbagai ruang percakapan.
Namun, ketika pagi menjelang dan setelah salat Subuh, media sosial mulai dipenuhi ucapan belasungkawa. Saya turut membagikan *posting* dari akun Facebook Bapak Ridwan Monoarfa, salah satu tokoh politik Gorontalo yang dikenal sangat dekat dengan Almarhum.
Kabar duka itu akhirnya benar adanya.
Memori pun berputar kembali, menghadirkan berbagai kenangan tentang sosok yang telah memberikan banyak warna bagi Gorontalo.
Saya memang tidak mengenal beliau secara dekat. Namun, beberapa kali saya berkesempatan bertemu, berbincang, dan berjabat tangan dengan Almarhum.
Selain itu saya mengoleksi lima buah buku tentang Gobel Ayahnya dan juga catatan laporan serta pengabdian Rachmat Gobel sebagai anggota Parlemen.
Pertemuan pertama terjadi ketika saya masih bertugas sebagai staf Humas dan Protokoler Pemerintah Kabupaten Pohuwato, sekitar tahun 2006. Saat itu, beliau berkunjung ke Pohuwato dalam rangka peletakan batu pertama pembangunan Masjid Agung Pohuwato pada masa pemerintahan Bupati Zainuddin Hasan dan Wakil Bupati Yusuf Giasi.
Pertemuan berikutnya terjadi ketika beliau berkesempatan melaksanakan salat Jumat di Masjid Agung Baiturrahim Pohuwato sekaligus menyerahkan hewan kurban menjelang Idul Adha 1446 H.
Dan pertemuan terakhir terjadi beberapa pekan lalu saat beliau kembali berkunjung ke Pohuwato. Kunjungan tersebut berkaitan dengan rencana beliau untuk menata kawasan Titik Nol Bundaran Panua menjadi pusat kuliner yang dapat menjadi ikon baru daerah.
Rachmat Gobel meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat Gorontalo. Beliau bukan hanya hadir sebagai seorang pengusaha dan politisi, tetapi juga sebagai sosok yang memiliki kepedulian besar terhadap pembangunan dan penataan wajah daerah.
Banyak jejak pengabdian yang akan selalu dikenang.
Masjid Agung Baiturrahim Kota Gorontalo, Masjid Agung Boalemo, Masjid Agung Limboto, Rumah Adat Dulohupa, Menara dan Taman Limboto, Danau Perintis, Kampung Terapung Torosiaje, hingga pemberdayaan petani kakao di Pohuwato dan Boalemo, pengembangan agroindustri kacang Tilihuwa di Limboto, serta rencana pengembangan pelabuhan laut di Gorontalo Utara.
Pondok Pesantren Hubulo yang terletak di kampung kelahiran ayah beliau di Gorontalo merupakan lembaga pendidikan Islam modern yang didedikasikan keluarga besar Gobel melalui Yayasan Annie Ebu Gobel.Peantren ini menjadi salah satu titik pusat episentrum pengembangan, pengkajian dan pengkaderan umat Islam yang berilmu dan berakhlak mulia di Bumi serambi Madinah Gorontalo.
Semua itu menjadi bagian dari cita-cita besar beliau untuk Gorontalo tercinta.
Rachmat Gobel mewarisi nilai luhur Gorontalo dari ayahandanya, Thayeb Mohammad Gobel, seorang pelopor industri elektronik Indonesia.
Filosofi usaha pohon pisang yang sering beliau sampaikan menjadi cerminan tentang bagaimana sebuah usaha harus memberi manfaat dari akar hingga buahnya. Sebuah filosofi sederhana, tetapi sarat makna tentang kebermanfaatan dan pengabdian.
Sejak muda, Rachmat Gobel telah dipersiapkan oleh ayahnya untuk meneruskan perjuangan dan mengembangkan usaha yang telah dirintisnya.
Beliau ditempa dengan nilai-nilai budaya Jepang yang dikenal dengan kerja keras, kedisiplinan, kejujuran, ketekunan, ketenangan, dan kerendahan hati. Beliau sempat menempuh pendidikan di Negeri Sakura tepatnya di Chuo university, seiring dengan hubungan kerja sama ayahandanya dengan mitra usaha Jepang dalam industri elektronik.
Dalam perjalanan hidupnya, Rachmat Gobel mencapai puncak pengabdian politik dengan dipercaya menduduki jabatan Menteri perdagangan ( 2014-2015), Wakil Ketua DPR RI, hingga menjadi salah satu tokoh penting dalam kepemimpinan politik di Gorontalo.
Jiwa politik tersebut tidak terlepas dari warisan pemikiran ayahandanya, Thayeb Mohammad Gobel, yang juga dikenal sebagai tokoh politik Partai berlambang Ka’bah pada masa Orde Baru.
Selain pengabdian dalam bidang ekonomi dan politik, Rachmat Gobel juga dikenal sebagai sosok yang sangat mencintai budaya Gorontalo.
Kecintaannya terhadap budaya daerah tercermin dalam berbagai ornamen khas Gorontalo pada bangunan rumah pribadinya, pelaksanaan adat dalam berbagai hajatan keluarga, termasuk prosesi pernikahan anak-anaknya. Bahkan dalam suasana duka keluarga besar beliau, nilai-nilai adat Gorontalo tetap dijaga.
Secara tidak langsung, Almarhum telah memperkenalkan keindahan dan keluhuran budaya Gorontalo kepada masyarakat luas.
Kini, putra terbaik Indonesia penyandang gelar adat *”Ti Bulilango Lo Hunggia”*, sosok yang diharapkan terus memberi cahaya bagi negeri, telah meninggalkan kita semua.
Beliau juga merupakan tokoh nasional yang memperoleh pengakuan dari negara melalui penganugrahan *Bintang Mahaputra Adipradana* 2014 dari Pemerintah Republik Indonesia.
Beliau menyelesaikan tugas pengabdiannya pada Jumat, 10 Juli 2026.
Sebagai ungkapan terimakasih kasih kami Pemerintah, Masyarakat secara serentak dari Masjid Agung hingga Masjid Kecamatan di Pohuwato melaksanakan sholat Ghaib untuk Almarhum DR( HC) Rachmat Gobel.Semoga Allah menempatkan beliau ditempat terbaik disisi-Nya.aamiin.
Selamat jalan, Kakak Rachmat Gobel.
Pengabdianmu abadi.
Namamu akan selalu dikenang dalam perjalanan sejarah Gorontalo.





