Abstrak.id – Dunia Pendidikan di Kabupaten Pohuwato kembali tercoreng. Seorang oknum guru MTS Nahdatul Khairaat di Kecamatan Popayato Timur, Pohuwato, berinisial AS diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap mantan siswinya, Mawar (nama samaran).
Pengakuan traumatis Mawar ini mencuat ke publik pada Selasa (25/11/2025).
Mawar, sang korban, mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam. Ia mengakui bahwa awalnya ia menaruh rasa hormat yang besar kepada AS, bahkan menganggapnya seperti ayah sendiri. Kepercayaan ini juga dimiliki oleh kedua orang tua Mawar.
”Saya anggap dia itu seperti ayah saya sendiri. Sampai ayah ibu saya percaya sama beliau. Tapi apa, ternyata dia laki-laki munafik,” ujar Mawar, saat dikonfirmasi Abstrak.id, Selasa (25/11/2025).
Namun, di balik citra religiusnya, AS mulai menunjukkan gelagat yang tidak wajar.
Mawar menduga bahwa AS menyimpan perasaan suka kepadanya, yang kemudian direspons Mawar dengan penolakan halus.
Menurut penuturan Mawar, oknum guru tersebut berulang kali mencoba memaksanya untuk bertemu dalam situasi privat dan mencurigakan.
Panggilan Malam Hari yang Mencurigakan
AS diduga menggunakan statusnya untuk menyuruh Mawar datang ke sekolah di luar jam pelajaran, yakni pada pukul 21.00 WITA malam. Mawar curiga karena di sana hanya akan ada AS seorang diri.
”Seorang ustaz menyuruh santri itu ke sekolah dan cuma beliau saja di sana. Karena saya orang tak gampang ditipu, saya selalu banyak alasan kalau ke sana,” ungkap Mawar.
Mawar selalu berusaha menghindar dengan berbagai alasan, seperti ingin membantu orang tua dan lain-lain. Ketika AS terus menerus menelepon, Mawar memilih untuk memblokir nomor telepon gurunya itu.
Merasa usahanya gagal melalui telepon, AS lantas mengambil langkah lain yang lebih berani.
“Dia datang ke rumah buat minta izin kepada ibu saya. Karena ibu saya percaya kepada beliau, terpaksa saya ikut beliau,” kenang Mawar.
Meskipun terpaksa ikut, hati Mawar sudah dipenuhi kegelisahan. Ia mengaku overthinking dan merasa ada hal buruk yang akan terjadi. Kecurigaan Mawar terbukti.
”Ternyata dia seperti ingin bersama saya berdua. Cuma saya tidak mau karena saya masih punya masa depan,” tegas Mawar.
Mawar menceritakan bahwa AS pernah mencoba menyentuhnya.
”Dia memegang tangan saya, tapi saya langsung buang. Saya langsung pergi dari tempat itu dan saya menangis, Pak,” tuturnya pilu.
Setelah penolakan-penolakan tersebut, bukannya meminta maaf, AS justru menunjukkan reaksi kemarahan. “Beliau selalu marah-marah kepada saya, Pak. Seperti orang gila, saya anggap beliau itu ustaz gila,” kata Mawar.
Mawar kini mengalami trauma mendalam. Peristiwa yang dialaminya ini membuat ia menjadi takut untuk berinteraksi, bahkan bertatap muka dengan laki-laki.
”Dari situ, Pak, saya sudah takut bertatap sama laki-laki, apalagi mau bersentuhan. Saya trauma bukan karena hal apa, cuma saya trauma, saya takut,” katanya.
Ia juga mengecam perbuatan AS yang dianggap melanggar etika dan ajaran agama.
“Apa itu hal biasa, Pak? Sedangkan dalam Islam, kita berdua 2 menit saja setan sudah menggoda kita,” kata Mawar, bersumpah untuk tidak akan memaafkan perbuatan AS.
”Saya cuma bisa berdoa semoga dia mendapat hal yang setimpal. Dia laki-laki munafik. Jadi tolong kami pak. Selain itu, saya juga meminta untuk korban-korban lainnya untuk mengungkap kasus ini, ini tidak bisa dibiarkan, kalau tidak akan banyak lagi korban-korban lainnya yang menjadi mangsanya,” tutup Mawar, berharap kebusukan oknum guru tersebut segera terungkap.
Sementara itu, oknum Guru MTS Nahdatul Khairaat Popayato Timur, AS saat dikonfirmasi Abstrak.id, melalui Via Whatsap dan Panggilan, Selasa (25/11/2025), namun hingga saat ini, belum bisa tersambung.
Disamping itu, Abstrak.id, sementara berupaya melakukan konfirmasi ke pihak Sekolah MTS Nahdatul Khairaat.
Untuk diketahui, saat ini oknum guru MTS Nahdatul Khairaat, AS sudah terangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dilingkungan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pohuwato. (Tim Redaksi Abstrak.id).























