Menu Tutup

Festival Pesona Pohon Cinta: Mengangkat Warisan Budaya dan Kuliner Khas Pohuwato

Abstrak.id – Pemerintah Daerah Kabupaten Pohuwato telah berhasil menciptakan suasana yang menarik dan menggembirakan dalam perayaan Festival Pesona Pohon Cinta (FPPC).

Acara ini tidak hanya dipenuhi dengan kehangatan kearifan lokal, tetapi juga berhasil menarik perhatian dan minat masyarakat untuk berpartisipasi dalam festival tersebut.

Dalam acara yang berlangsung di Objek Wisata Pohon Cinta itu terlihat para tamu dapat menikmati berbagai nuansa budaya lokal. Festival ini terpilih sebagai salah satu dari 110 acara terbaik se-Indonesia.

Kehadiran Dr.Mohamad Amin, Direktur Musik, Film, dan Animasi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, menjadi kebanggaan tersendiri bagi daerah (Pohuwato) ini.

Acara dimulai dengan gala dinner di Marina Beach Resort sebelum menuju lokasi acara melalui pintu masuk bagian timur. Di sana, seluruh rombongan disambut secara adat oleh pemangku adat Pohuwato beberapa meter sebelum pintu masuk adat.

Setelah berjalan sekitar 15-25 meter, rombongan melanjutkan perjalanan menggunakan bentor yang dihias dengan dekorasi bernuansa adat.

Bupati Saipul A. Mbuinga dan Dr. Mohamad Amin, serta tokoh-tokoh lainnya, turut serta dalam perjalanan ini untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat.

Ketika sampai di lokasi acara, rombongan singgah sejenak di demonstrasi kuliner Jepa lo Duwo, yang disajikan oleh berbagai kelompok termasuk GOW, DWP, TP PKK, Persit Kartika Chandra.

Perempuan Serikat Islam, Bhayangkari, dan Gran Q Hotel Gorontalo. Di sini, mereka tidak hanya menyaksikan namun juga mencicipi jepa lo duwo, makanan khas Gorontalo.

Bupati Saipul mengungkapkan kebanggaannya terhadap keberagaman budaya dan keindahan alam di Kabupaten Pohuwato.

“Festival Pesona Pohon Cinta merupakan upaya kami untuk memperkenalkan dan mempromosikan kekayaan budaya dan alam Kabupaten Pohuwato kepada dunia. Kami berharap, acara ini akan mendorong pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah kami,” ujarnya.

Selama acara berlangsung, nuansa adat terasa kuat, terutama pada saat Kemenparekraf tiba di lokasi dengan disambut tari tradisional dan prosesi adat yang menunjukkan keramahtamahan masyarakat Pohuwato.

Momen yang paling berkesan adalah ketika Bupati Pohuwato bersama tamu kehormatan menaiki bentor, kendaraan khas daerah yang dihias dengan ornamen adat, menuju lokasi festival.

Sementara itu, Kadis Parpora Pohuwato, Rusmiaty Pakaya, menjelaskan bahwa acara ini tidak hanya menampilkan seni dan budaya lokal, tetapi juga berbagai kegiatan menarik seperti pameran kerajinan tangan, kuliner khas Pohuwato, dan lomba tradisional.

“Kami ingin pengunjung merasakan langsung keunikan budaya dan kehangatan Pohuwato. Kami telah menyiapkan berbagai kegiatan yang bisa dinikmati semua kalangan,” katanya.

Secara keseluruhan kata Rusmiyati, penerimaan adat hingga penggunaan bentor sebagai transportasi di acara ini menjadi bagian integral dalam meningkatkan nilai budaya.

“Fokus kami adalah mengangkat segala yang bernilai budaya dan kembali mempromosikan makanan khas seperti duwo atau nike. Selain itu, terdapat pameran, UKM, dan kuliner rakyat dari bagian barat lokasi festival,” tambahnya. (Ramlan/Abstrak).