Banyak pertentangan antara subjektifitas maupun objektifitas pemikiran orang lain terhadap suatu paham pancasila. Nampaknya hal ini menjadi pembahasan menarik untuk diperbincangkan dan didiskusikan bersama kawan dan teman seperjuangan, dan tentunya juga ditemani dengan refrensi buku untuk menambah wawasan.
Seperti halnya suasana di malam yang begitu gelap gulita. Yah suatu malam di saat kami berdiskusi. Suguhan yang tersedia berupa makanan berat dan minum kopi cukup menjadikan kondisi utama agar pemikiran semakin jernih. Pola pikir rasional atau berfikir kritis menjadi isu topik utama dalam diskusi tersebut. Mengapa demikian? Sebab perbincangan pada malam itu membahas tentang Pancasila? Sering terbenak di fikiran saya kenapa kita harus memiliki Pancasila? Padahal, yang kita tau di dunia ini hanya ada tiga ideologi komunisme/sosialisme, kapitalisme/sekularisme dan Islam.
Pertanyaanya pancasila ideologi atau bukan? Apakah kita tidak bisa hidup bebas sesuai yang kita inginkan dan kita capai? Kenapa kita harus terikat pada nilai-nilai normative yang dapat melimitasi suatu ekspresi gagasan kita sebagai insan yang lahir dan hidup dimuka bumi ini?
Jawabannya ialah kita manusia nampaknya tidak dapat mengerjakan segalanya secara sendiri, perlu ada pendamping hidup, perlu ada yang menemani. Bahkan, perlu ada yang mendorong untuk tetap mencapai kehidupan yang diidam-idamkan manusia, karena sejatinya manusia merupakan makhluk social yang diciptakan tuhan untuk menjalankan fungsi kehidupan ini, sebagaimana takdir yang telah diberikan oleh Tuhan sebagai Sang Pencipta kepada makhluknya yaitu manusia.
Kita hidup di bumi yang penuh dengan kekayaan, kenapa saya menyebut kekayaan? Karena kita sebagai bangsa patutlah sadar akan apa saja yang ada di sekeliling kita. Ingin bicara tentang politik, ekonomi, sumber daya alam, Indonesia secara geografis merupakan surga yang kaya akan keanekaragaman, baik flora dan fauna.
Masyarakat Indonesia sejatinya tidak perlu khawatir kekurangan makanan pokok. Sebab, sebagian besar masyrakat Indonesia bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan, bukan hal mustahil kita dapat mencapai ketahanan dan kedaulatan negara. Maka dari itu Indonesia haruslah menjadi negara yang berdiri sendiri di bidang pertanian dan kelautan.
Sebab segalanya telah tersedia dibumi pertiwi Indonesia yang kita cintai ini.
Saya berharap setiap tahunnya hadir dan sama untuk memajukan Indonesia di segala bidang, khususnya di bidang ekonomi.
Akan tetapi masih banyak ketimpangan, penyelewengan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat diakibatkan oleh tidak adanya pemerataan ekonomi dan terbatasnya lapangan pekerjaan sehingga setiap tahun Negara Indonesia selalu menambah jumlah pengangguran yang mengakibatkan semakin tingginya tindak kriminalitas dan kemorosotan moral yang terjadi pada bangsa ini.
Ditambah dengan permaslahan lain di segala bidang terutama pada sisi pendidikan, kurangnya kualitas pendidikan yang ada di desa-desa, serta belum meratanya kualitas tenaga pendidik juga menjadi suatu fenomena yang selalu menjadikan diri ini geregetan sebagai anak bangsa.
Kita tau juga permasalahan di bidang kesehatan juga nampaknya menjadi sesuatu yang krusial. Kenapa demikian dari tahun kemarin dan hari ini kita diperhadpkan dengan kasus Covid-19 atau corona yang belum berakhir. Padahal, di sisi lain, bangsa Indonesia bisa menjadi hebat karena tengah menghadapi bonus demografi.
Akan tetapi, saat ini anak-anak bangsa kita menderita stunting atau kekurangan gizi yang dapat menghambat proses tumbuh kembang anak untuk menghadapi dan melaksanakan tugas anak bangsa sebagai tulang punggung bangsa Indonesia.
Harapan saya kedepannya, perlu adanya pemikiran yang cemerlang dalam hal ini keberimbangan antara jasmani dan kecerdasan yang sehat serta budi pekerti yang luhur untuk dapat menghadirkan Negara Indonesia menjadi suatu Negara yang adil, makmur, sentosa sesuai apa yang di cita-citakan negeri ini.
Pancasila dalam hal ini sebagai suatu nilai dasar fundamental Negara Indonesia harus tetap hadir dan menjadi patron pengerak dalam melakukan filterisasi dalam setiap permasalahan-permaslahan yang terjadi dibumi pertiwi. Nilai-nilai filosofis yang terkandung didalamnya harus tetap terjaga dan terlaksana pada setiap sendi-sendi berkehidupan berbangsa dan bernegara.
Apalagi diperhadpkan ancaman-ancaman yang silih berganti datang dinegeri tercinta ini, dan ini haruslah teratasi dengan mudah karena kita tau banyak para pemikir di luar sana yang gelar sarjana yang luar biasa sesuai bidangnya, tetapi tidak di gunakan secara baik. maka permasalahan-permasalahan yang timbul itu tampaknya bukan berasal dari luar, melainkan berasal dari diri kita sendiri.
Perlu ada pemahaman yang mendalam terkait dengan pancasila sebagai tolak ukur Negara indonesia. Karena kita tau Menghayati dan mengamalkan nilai-nilai dasar pancasila Negara kita nampaknya menjadi salah satu cara untuk mengatasi permasalahan bangsa yang ada pada saat ini. Sejarah dari falsafah bangsa kita nampaknya juga menjadi sesuatu yang harus disadari oleh setiap pembuat kebijakan.
Menyudutkan kaum mayoritas nampaknya menjadi batu sandungan dalam menjadikan disintegrasi nasional. Hal ini kita tidak inginkan, tapi setidaknya kita haruslah sadar bahwa kebenaran itu milik subjektifitas kepala manusia dan mendahulukan kepentingan orang banyak menjadi ciri pokok identitas bangsa Indonesia untuk membuktikan bahwa Pancasila sebagai jalan tengah dalam memajukan bangsa Indonesia yang kita cintai ini.
Penulis: Apris Nawu, Alumni PPKn FIS UNG yang juga Kader Persatuan Aksi Pelajar Mahasiswa Indonesia Bone Bolango-Gorontalo (Papmib-G) serta Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)