Beranda / Catatan Kita / Opini / Kualitas Air Danau Limboto Menurun, Penanganan Terpadu Dinilai Mendesak

Kualitas Air Danau Limboto Menurun, Penanganan Terpadu Dinilai Mendesak

Abstrak.id – Kondisi kualitas air Danau Limboto saat ini perlu mendapat perhatian serius. Penurunan kualitas air danau terjadi karena beberapa faktor yang saling berkaitan dan saling memperkuat. Faktor utama yang paling berpengaruh adalah kerusakan daerah aliran sungai (DAS), masuknya nutrien dari aktivitas pertanian dan budidaya, serta limbah domestik dari aktivitas rumah tangga.

Berdasarkan dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Danau Limboto Tahun 2025–2029, kondisi mutu air danau saat ini berada pada kategori cemar ringan, sementara tingkat kesuburannya sudah berada pada kondisi eutrofik berat hingga hipereutrofik, yang menunjukkan tingginya kandungan unsur hara di perairan.

Kerusakan DAS menjadi salah satu penyebab awal yang memicu masalah lebih besar. Alih fungsi lahan di sekitar wilayah DAS menyebabkan erosi meningkat. Tanah yang tergerus kemudian terbawa aliran air dan masuk ke Danau Limboto dalam bentuk sedimen. Akibatnya, pendangkalan danau terjadi semakin cepat. Pendangkalan ini menurunkan kapasitas tampung air dan membuat kondisi perairan menjadi lebih mudah terganggu. Sedimen yang sudah mengendap juga bisa teraduk kembali, sehingga air menjadi semakin keruh dan kualitasnya terus menurun.

Selain sedimentasi, penurunan kualitas air juga dipicu oleh tingginya kandungan nutrien, terutama nitrogen dan fosfor, yang berasal dari kegiatan pertanian dan budidaya. Nutrien yang berlebihan memicu eutrofikasi, yaitu kondisi ketika perairan terlalu subur sehingga pertumbuhan eceng gondok dan alga menjadi tidak terkendali. Dalam dokumen terlampir disebutkan bahwa hasil pemantauan status trofik pada 10 titik pada tahun 2017 menunjukkan kondisi Danau Limboto berada pada status eutrofik berat sampai hipereutrofik.

Bahkan, pada pemantauan tahap kedua, sejumlah titik seperti wilayah Desa Iluta, outlet Tapodu, dan area dekat pendaratan Presiden Sukarno tercatat sudah masuk kategori hipereutrofik. Kondisi ini menandakan air danau mengandung unsur hara sangat tinggi dan telah tercemar berat oleh peningkatan nitrogen dan fosfor.

Data pemantauan mutu air juga menunjukkan bahwa pada tahun 2023, lima titik pantau di Danau Limboto, yaitu wilayah tepi danau dekat pemukiman Desa Iluta, bagian tengah danau yang banyak ditumbuhi eceng gondok, area dekat outlet Sungai Alopohu, kawasan sekitar Pentadio Resort, dan outlet Topodu, seluruhnya berada pada status cemar ringan.

Namun, dokumen tersebut menegaskan bahwa beberapa parameter yang paling berpengaruh terhadap kondisi ini adalah COD, Total Nitrogen, dan Total Fosfat. Selain itu, nilai Total Phosphate saat ini tercatat berada pada kisaran 0,237–0,262 mg/L, dan masih ditargetkan untuk diturunkan hingga di bawah 0,2 mg/L agar memenuhi baku mutu.

Masalah berikutnya berasal dari limbah domestik. Limbah rumah tangga yang masuk ke danau meningkatkan beban organik atau BOD. Semakin tinggi beban pencemaran, semakin besar kebutuhan oksigen untuk menguraikan bahan organik di dalam air. Akibatnya, kadar oksigen terlarut turun dan kondisi perairan menjadi semakin tercemar. Dalam jangka panjang, keadaan ini membuat kemampuan alami danau untuk memulihkan diri menjadi semakin lemah.

Kajian ini juga menunjukkan bahwa ada beberapa langkah penanganan yang dapat dilakukan untuk menahan laju penurunan kualitas air. Pertama, konservasi DAS perlu diperkuat agar erosi dapat ditekan dan jumlah sedimen yang masuk ke danau berkurang. Kedua, perbaikan sistem sanitasi harus menjadi perhatian agar limbah domestik tidak terus menambah beban pencemaran. Ketiga, pembersihan eceng gondok dan alga secara berkala perlu dilakukan untuk mengurangi pembusukan dan membantu meningkatkan kadar oksigen terlarut di dalam air.

Dalam dokumen perencanaan juga ditegaskan bahwa status mutu air perlu dipertahankan minimal tetap pada tingkat cemar ringan, sambil menurunkan kadar fosfat total agar sesuai baku mutu lingkungan.


Mahasiswa S3 Ilmu Lingkungan Universitas Negeri Gorontalo, Nasruddin

Tag: