Mencermati Kondisi Pendidikan Indonesia, di Tengah Riuhnya Slogan “Merdeka belajar”

  • Bagikan

Penulis: Sandy Syafrudin Nina

Kawan-kawan sekalian, saya ingin melihat dari ruang yang cukup berbeda di “Hari pendidikan” kali ini, tepat tanggal 2 Mei 2021.

Jika kita cermati, ada ‘gap’ yang sangat terlihat dari slogan “Merdeka belajar,” dengan kondisi sebenarnya yang terjadi. Pada umumnya, masyarakat akan menafsirkan “Merdeka belajar,” adalah sebuah usaha untuk membuat pendidikan di Indonesia sama rata. Tetapi kenyataannya, tidak semua merasakan itu.

Di beberapa sekolah yang aksesnya sangat dalam dari sebuah wilayah perkotaan, katakanlah sekolah berada di pedalaman, yang terjadi adalah penyesuaian mereka dengan apa yang direncanakan oleh kementerian pendidikan; yaitu belajar online. Dan tentu, bagi masyarakat kita yang berada di sana, yang jaringan internet tidak tembus, ini merupakan sisi tidak merdekanya dari slogan “Merdeka belajar.”

Merdeka belajar artinya juga adalah memberikan ruang kreativitas untuk anak-anak dapat berpikir dengan emosional dan kecerdasan mereka masing-masing. Tetapi lagi-lagi, banyak guru yang sangat sulit untuk memberikan ruang diskusi itu.

Sejauh ini juga yang terjadi, banyak isu-isu yang tidak mengenakan datang dari dunia “Pendidikan” itu sendiri, misalnya dari “Draf peta pendidikan” kita; Hilangnya frasa agama dari “Draf peta pendidikan”. Tentu ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan untuk masyarakat Indonesia. Ya, meski Pak Nadiem telah mengklarifikasi, bahwa:

“Kita masukkan lagi, jadi enggak ada masalah, case closed ya mengenai ini dan tidak akan ada penghilangan pembelajaran agama. Mohon maaf ini hal-hal yang mungkin kelihatannya kecil tapi di masyarakat menjadi pembicaraan yang agak liar,” (Kompas.com),

Menurut saya, kalimat ini adalah sebuah kalimat penenang dari sesuatu yang “Telah terjadi,” itu berarti frasa agama sempat dihapuskan dan pak Nadiem mengatakan “Kita masukan lagi…” bagi saya, bukan masalah dimasukkan lagi atau gak, tetapi, kenapa sampai bisa terhapus atau jangan-jangan sengaja dihapus, lalu ketahuan oleh rakyat?

Sekarang, mari kita lihat di bagian sejarah. Jika kawan-kawan sekalian mengakses kompas.com, maka kawan-kawan akan menemukan berita tentang hilangnya nama Ulama KH Hasyim Asy’ari dari dalam kamus sejarah. Kamus itu disusun oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dan benar saja, Kemendikbud langsung menarik sementara kamus itu.

Kawan-kawan sekalian, inilah yang perlu kita cermati di hari pendidikan di setiap tahunnya, selain kita sangat riuh dengan slogan “Merdeka belajar,” itu. Tugas dari kita, bukan hanya ikut mengkampanyekan “Merdeka belajar,” kita juga perlu melakukan ‘Controlling’ atas pendidikan itu sendiri. Kalau bukan kita semua, lalu siapa yang akan melakukan itu?

 

  • Bagikan
Bebas
%d blogger menyukai ini: