Abstrak.id – Warga Desa Popayato, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, mengeluhkan kualitas air yang disuplai oleh PDAM Pohuwato yang kini tercemar aktivitas pertambangan ilegal dan tidak layak digunakan.
Keluhan ini disampaikan oleh seorang warga berinisial AT, yang menuding PDAM Pohuwato menjual air kotor kepada masyarakat Popayato.
“PDAM Pohuwato ini menjual air kotor kepada kami, masyarakat Popayato. Mereka tetap datang menagih tagihan meskipun kondisi airnya sudah kotor,” ungkap AT, Senin (11/11/2024).
Keluhan ini muncul setelah diduga adanya aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI) yang berlangsung di wilayah KM 18 dan KM 53 Popayato.
Aktivitas pertambangan yang tidak terkontrol ini diduga menyebabkan kerusakan lingkungan yang berdampak pada kualitas air yang diterima oleh masyarakat.
Menurut AT, air yang sebelumnya digunakan untuk memasak, mandi, dan kebutuhan rumah tangga lainnya kini berubah menjadi keruh dan kotor.
“Air PDAM sudah tidak bisa digunakan untuk mencuci atau mandi. Banyak warga yang terpaksa menggunakan air sumur di Masjid setempat untuk kebutuhan air bersih,” tambah AT.
Beberapa warga bahkan melaporkan gatal-gatal setelah mandi dengan air PDAM, sementara sebagian lainnya memilih menggunakan air galon untuk keperluan memasak.
Selain AT, sejumlah warga lainnya juga mengungkapkan keluhan serupa. Banyak pelanggan PDAM yang merasa tidak nyaman dengan kualitas air yang semakin buruk.
Menanggapi keluhan tersebut, Plt Direktur PDAM Pohuwato, Wawu Hontong, menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami masyarakat.
Ia mengungkapkan bahwa pihak PDAM terus berupaya mengatasi masalah kekeruhan air dengan menambah bahan kimia dalam proses pengolahan.
“Kami terus berupaya secara teknis untuk menangani dampak kekeruhan air yang masuk ke pengolahan. Bahkan Jumat kemarin kami mencoba memaksimalkan pembubuhan bahan kimia untuk mengurangi tingkat kekeruhan yang tinggi,” kata Wawu Hontong saat dikonfirmasi oleh Abstrak.id.
Wawu Hontong menjelaskan bahwa selama musim penghujan, tingkat kekeruhan air bisa meningkat drastis, terutama ketika terjadi banjir di sungai yang menjadi sumber air baku PDAM.
“Kami akan terus berupaya memaksimalkan penanganan kekeruhannya dengan menambah satu unit alat pembubuhan tawas,” pungkasnya. (Ramlan/Abstrak.id)