Sekum dan Ketum PPMIBU ini Pecahkan Mitos Organisasi jadi Penghambat Perkuliahan

  • Bagikan
PPMIBU

Abstrak.id – Bagi sebagian orang, mengikuti organisasi saat menjadi mahasiswa pasti dapat mengganggu aktivitas perkuliahan. Namun, bagi kedua mahasiswi yang baru diwisuda ini, hal tersebut adalah mitos yang tidak benar.

Jika sebagian orang menganggap mengikuti organisasi membuat kuliah mahasiswa menjadi amburadul, tetapi bagi keduanya malah sebaliknya.

Yah, mereka yang memecahkan mitos itu, dua di antaranya adalah Sekretaris Umum (Sekum) dan Ketua Umum (Ketum) Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia Bolaang Mongondow Utara (PPMIBU) Periode 2020-2021.

Nama kedua mahasiswi ini yakni Marsya Usman dan Meylan Laudengi. Mereka merupakan dua mahasiswi yang mengambil jurusan Ekonomi Pembangunan di Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Keduanya menyandang gelar sarjana dalam prosesi wisuda UNG pada Rabu, 14 Juli 2021. Pemindahan tali toga pada Marsya dan Meylan juga sekaligus membuktikan bahwa pernyataan “organisasi dapat menghambat perkuliahan” adalah tidak benar.

Pasalnya, kedua mahasiswa ini menyelesaikan studinya hanya dalam jangka waktu tidak sampai 4 tahun saja sebagaimana mahasiswa pada umumnya.

Nining, sapaan akrban Marsya Usman, menyelesaikan perkuliahan dalam jangka waktu 3 tahun delapan bulan. Sementara Mey, panggilan akrab Meylan, dalam jangka waktu 3 tahun sembilan bulan.

Padahal, dalam dunia organisasi mereka memikul jabatan yang sangat strategis. Tak hanya itu, selain dalam paguyuban, keduanya juga aktif dalam beberpa organisasi di luar kampus lainnya. Misalnya, Meylan, dia ikut dalam organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala).

“Alhamdulillah, bisa sampai pada tahap ini, tentunya atas dukungan dari teman-teman dan doa orang tua,” tutur Nining saat diwawancarai pada Kamis, 5 Juli 2021.

Nining mengiykan organisasi memang dapat menghambat perkulihan. Akan tetapi, dia juga mengiyakan bahwa tidak mengikuti organisasi saat menjadi mahasiswa juga dapat menghambat perkuliahan.

Kedua-duanya, bagi Nining, adalah hal yang sama. Satu hal yang penting adalah menejemen diri sendiri. Karena dengan mampu mengatur jadwal dan aktivitas, kata dia, hal-hal yang dapat terabaikan akan terhindarkan.

“Logikanya begini, kita ikut dalam organisasi tetapi bisa membagi waktu, tetap datang ke kampus, kan, dua-duanya bisa seiring dan sejalan. Bagaimana kalau sebaliknya. Kita tidak ikut organisasi, tetapi hanya tidur-tiduran saja,  tentu juga akademik kita akan terabaikan, kan, sama saja,” tutur perempuan kelahiran 18 Juli 1999 itu.

Nining mengungkapkan keikutsertaan dalam dunia organisasi adalah penting bagi mahasiswa. Dalam dunia organisasi, kata Nining, pihaknya banyak belajar tentang kedewasaan dalam bersikap, pengembangan krativitas, dan ilmu pengetahuan.

Bagi mahasiswa asal Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) ini, berorganisasi saat menjadi mahasiswa ialah hal yang seru. Pasalnya, dia banyak bertemu dengan berbagai teman dengan karakter dan latar belakang yang berbeda.

“Itulah yang membuat keseruan dalam organisasi. Namun, jangan lupa perkuliahan juga jangan terabaikan. Intinya begini, bisa membagi waktu, prioritaskan hal yang penting, dan saling koordinasi kalau ada satu hal yang tidak bisa diselesaikan sendiri, supaya semua hal dapat terakomodir,” kata Nining.

Sementara itu, Meylan Laudengi yang merupakan Ketum PPMIBU Cabang Kota Gorontalo ini menuturkan organisasi adalah wadah pembelajaran selain di dunia kampus. Baginya, beberpa pengetahuan yang tidak didapatkan dalam kampus bisa diperoleh dalam dunia organisasi.

Mengingat, kata Mey, banyak hal yang tidak sempat diajarkan kampus karena waktu perkuliahan sangat terbatas. Dari organisasi juga Mey banyak belajar tentang arti kepemimpinan dan sikap kedewasaan.

Kepintaran Mey dalam membagi aktivitas dalam dunia organisasi dan kampus ini pun mengantarkannya sebagai peraih sarjana termuda di Universitas Negeri Gorontalo saat diwisuda kemarin.

Perempuan kelahiran 18 Juli 1999 itu memasuki kampus sejak tahun 2017 silam. Kesempatan saat menjadi mahasiswa dimanfaatkannya dengan sebaik mungkin.

Dia sama sekali tak meninggalkan urusan kampus walaupun aktif dalam paguyuban dan Mapala yang diikutnya. Hingga akhirnya dia mampu meraih gelar sarjana termuda saat prosesi wisuda UNG pada Rabu, 14 Juli 2021.

“Di antara mereka, ada satu mahasiswa yang menyandang gelar sarjana termuda, yakni Meylan Laudengi, S.E,. Ini menandakan semangat belajar yang tinggi,” beber Rektor UNG Dr. Eduart Wolok, S.T, M.T,. dalam sambutannya.

Sehingga, kata Eduart, dirinya bisa selesai dengan usia termuda yang tidak semua orang bisa mencapainya. Rektor UNG itu juga memberikan ucapan selamat atas torehan prestasi tersebut.

Mey mengaku segala bantuan teman-teman dan orang-orang terdekatnya saat dirinya mengalami kesusahan adalah yang mengantarkannya memperoleh capaian tersebut.

“Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak. Sukses juga untuk kalian yang saat ini masih berjuang menggapai toga yang diimpikan,” ucap Mey.

Menanggapi hal ini, Sekretasi Daerah (Sekda) Kabupaten Bolmut, Asripan Nani menyampaikan apresiasinya kepada Sekum dan Ketum PPMIBU ini.

“Saya ikut bangga dengan kedua anak daerah ini. Ini membuktikan semangat dari kedunya untuk mewujudkan cita-cita orang tua sangatlah kuat. Daerah kita sangat membutuhkan anak-anak sepeti  ini. Teruslah berkarya untuk dunia,” ungkap Asripan Nani.

Sekda berpesan kepada para mahasiswa agar dapat mencontohi Nining dan Mey. Baginya, kedua lulusan tebaik itu patut diapresiasi dan diikuti oleh para mahasiswa lainnya.

“Saya mesti mengucapkan selamat kepada Nining dan Mey. Orang tua kalian sangat bangga dengan prestasi kalian,” tandas Papa Fikri panggilan akrab Asripan Nani.

(Aden/Abstrak)

  • Bagikan
Bebas
%d blogger menyukai ini: